PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Berfilsafat
merupakan bagian dari peradaban manusia. Semua peradaban yang pernah timbul di
dunia pasti memiliki filsafat masing-masing. Kenyataan ini sekaligus membantah
pandangan bahwa yang berfilsafat hanya orang Barat saja, khususnya orang
Yunani. Dalam konteks hubungan filsafat Barat dengan filsafat Islam ternyata
keduanya mimiliki hubungan yang sangat akrab ini terjadi terutama dalam bentuk
tukar menukar pemikiran.
Pengaruh dominan
filsafat Yunani terhadap pemikiran filsafat dalam Islam tidak terbantahkan,
bahkan dominasi tersebut diakui oleh para filosof Muslim. Secara diplomasi
Alkindi mengatakan bahwa filsafat Yunani telah membantu umat Islam dengan bekal
dan dasar-dasar pikiran serta membuka jalan bagi ukuran-ukuran kebenaran.
Karena itu, beberapa teori filsafat Yunani, khususnya Aristoteles dipandang
sejalan dengan ajaran Islam seperti teori ketuhanan, jiwa dan roh, penciptaan
alam dan lain-lain.
Alkindi dan juga
beberapa filosof Muslim setelahnya muncul sebagai penerjemah dan pen-syarah
filsafat Yunani. Bahkan Ibnu Rusyd dikenal sebagai komentator Yunani memandang
Aristoteles sebagai seorang pemikir besar yang pernah lahir. Ia seorang
bijaksana yang memiliki ketulusan keyakinan. Maka dalam syairnya Divine Comedy
Dante mengatakan Ibnu Rusyd sebagai komentator terbesar terhadap filsafat
Aristoteles dimasanya, mengalahkan keterkenalannya dalam pengetahuan lain
seperti fisika, kedokteran dan astronomi.
Ibn Rusyd
(1126-1198), atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ibn Rusyd atau Averroes,
adalah filosof Muslim Barat terbesar di abad pertengahan. Dia adalah pendiri
pikiran merdeka sehingga memiliki pengaruh yang sangat tinggi di Eropa. Michael
Angelo meletakkan patung khayalinya di atas atap gereja Syktien di Vatikan
karena ia dipandang sebagai filosof free thinker. Dante dalam Divine
Comedia-nya menyebutnya “Sang Komentator” karena dia dianggap sebagai
komentator terbesar atas karya-karya Aristoteles.
Dominasi pengaruh filsafat Yunani demikian tak
pelak menimbulkan masalah dan tantangan tersendiri terhadap eksistensi filsafat
Islam. Secara internal muncullah kritisisme dan bahkan tuduhan negatif oleh
kalangan ulama orthodok terhadap pemikiran filsafat dalam Islam. Secara
eksternal ada sanggahan bahwa sebenarnya filsafat Islam tidak ada, yang ada
hanyalah umat Islam memfilsafatkan filsafat Yunani agar sesuai dengan ajaran
Islam. Persoalannya adalah apakah benar filsafat telah menyelewengkan keyakinan
Islam? Dengan demikian, benarkah para filosof Muslim adalah ahli bid’ah dan
kufr? Seperti terlihat dalam tuduhan-tuduhan kaum orthodok termasuk al-Ghazali.
Al-Ghazali menuduh
telah ada kerancuan dalam pemikiran para filosof. Sedemikian konpleknya
persoalan-persoalan yang dikritik al-Ghazali sehingga banyak komentator yang
beranggapan bahwa penolakan itu sama halnya untuk menjauhkan filsafat dari
peradaban Islam. Salah satu kritik yang dilancarkan al-Ghazali terhadap para
filosof muslim ialah kecenderungan mereka meremehkan syiar-syiar agama Islam.
Mereka (para filosof muslim) lebih tertarik pada ajaran-ajaran Socrates, Plato
dan Aristoteles di bidang logika, kosmologi dan teologi. Menurut al-Ghazali apa
yang dianggap para filosof itu sebagai suatu kebijaksanaan (wisdom) tak lain
adalah kesesatan yang nyata. Ibnu Rusyd mananggapi pernyataan tersebut dengan
dengan membuat analogi bahwa Allah sebagai sang pencipta mengeluarkan banyak
sifat produksi dan mampu mendatangkan sifat-sifat yang spektakuler, namun ada
saja yang mencemoh dan meremehkan hal tersebut. Sehingga yang meremehkan itu
menunjukkan bahwa mereka tergolong ulama yang bodoh.
Menanggapi hal
tersebut Ibnu Rusyd tampil sebagai pembela para filosof dengan menulis buku
yang cukup terkenal, tahafut at-tahafut sebagai sanggahan terhadap tuduhan
al-Gazali. Ibnu Rusyd menyanggah tuduhan al-Ghazali tersebut dengan menyatakan
bahwa tujuan al-Ghazali untuk memutlakkan kekuasaan Tuhan dengan cara menghapus
hukum sebab-akibat justru kontraproduktif. Penolakan hukum sebab-akibat akan
menghancurkan seluruh basis untuk mengarahkan seluruh proses kejadian di alam
kepada tuhan. Al-Ghazali secara tidak sadar telah menghancurkan satu-satunya
dasar logis di atas mana kekuasaan Tuhan terhadap alam bersandar. Pandangan itu
sangat membahayakan filsafat, ilmu dan juga teologi.
Persoalan ini
sangat urgen untuk diselesaikan karena sudah menyangkut persoalan sensitif
keimanan dan karena ternyata ikhtilaf dalam metode keilmuan untuk memahami
ajaran agama sampai pada klaim-klaim kebenaran tentang status agama seseorang.
Karena itu persoalan ini diangkat dalam makalah ini dengan tema sentralnya Ibnu
Rusyd.
Al-Ghazali adalah
seorang tokoh pemikir Islam dan sekaligus tokoh pemikir kemanusiaan secara
umum. Dia juga salah seorang yang berotak cemerlang yang memiliki berbagai
keunggulan dan jasa dalam berbagai aspek. Salah seorang tokoh di masanya yang
sangat menguasai ilmu agama. Ilmu pengetahuan yang dikuasainya mencakup Fiqih,
Ushul, Ilmu Kalam, Logika (Mantiq), Filsafat, Tasawuf, Akhlak dan yang lain.
Dia telah menyusun buku tentang semua bidang tersebut yang telah diakui
kedalamannya, orisinalitas, ketinggian dan memiliki jangkauan yang
panjang.
Yusuf Qardhawi
mengatakan bahwa pada sisi lain, dia adalah seorang kutub tasawuf, pejuang
spiritual dan tokoh pendidikan serta tokoh dakwah kepada Allah swt. Dia adalah
seorang ilmuwan dan sekaligus ahli ibadat, da’i, pembaharu, juga insan rabbani yang berilmu,
beramal dan juga sebagai pengajar. 1
Al-Ghazali seperti
yang diketahui dari beberapa literatur adalah sosok yang banyak melakukan
perjalanan ke berbagai daerah yang begitu luas. Dia telah menggeluti dan
mengkaji pemikiran-pemikiran dalam bidang filsafat dan teologi, mistisisme atau
sufi, dan ajaran-ajaran mistik gereja Kristen. Oleh karena itu, dia adalah
seorang sarjana, filosof, dan ahli kalam. 2
Sosok al-Ghazali
merupakan seorang tokoh kontroversial yang sering mengundang berbagai polemik
mengenai ajaran-ajaran, pemikiran dan karyanya. Ada yang menyanjungnya setinggi langit dan
ada pula yang merendahkannya sampai dasar lautan. Mayoritas umat Islam hingga
dewasa ini menyanjungnya bahkan secara berlebihan, beberapa karyanya masih
banyak menghiasi dunia pemikiran Islam dewasa ini, dan juga sangat banyak para
pencari ilmu yang meneliti dan membahas pemikiran-pemikirannya yang kemudian
dituangkan dalam berbagai tulisan.
Sebagian kaum
orientalis, yang diikuti oleh orang-orang Arab modern berpendapat bahwa
al-Ghazali bertanggung jawab atas kehancuran filsafat dan pemikiran bebas,
mengangkat akademi tradisional dan mengalahkan akademi rasional. Bahkan dia
bertanggung jawab atas hancurnya istana keilmuan dan peradaban Islam secara
menyeluruh. 3
Oleh karena itu
sangat menarik untuk membahas lebih dalam lagi mengenai sosok al-Ghazali
sebenarnya dan bagaimana perjalanan hidupnya, kontroversial pemikirannya dan
karya-karyanya.
0 comments:
Posting Komentar